Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pengertian wawancara adalah tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal.
Wawancara merupakan bagian yang penting untuk memperoleh informasi dibalik pengalaman partisipan. Interviewer bisa mempengaruhi tingkat kedalaman informasi tentang suatu topik. Wawancara digunakan sebagai tindak lanjut terhadap responden untuk menginvestigasi respon mereka, (McNamara, 1999)
Wawancara banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. Wawancara dalam penelitian kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan dan mengartikan tema pusat dari subjek yang ada didunia. Arti penting dari proses interview adalah untuk mengerti makna dari apa yang diucapkan interviewer. (Kvale, 1996)
Adapun jenis - jenis wawancara menurut Bungin (2007) adalah sebagai berikut :
- Wawancara oleh tim atau panel : dilakukan tidak hanya satu orang, narasumber boleh lebih dari satu orang dengan satu pewawancara (interviewer).
- Wawancara tertutup dan wawancara terbuka : wawancara tertutup dilakukan tanpa meminta izin dan memberitahu terlebih dahulu atau subjek tidak mengetahui saat dilakukan wawancara sehingga peneliti dapat mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi. Sedangkan wawancara terbuka dilakukan secara sistematis dengan meminta izin atau memberi tahu kepada subjek yang diamati.
- Wawancara riwayat secara lisan : dilakukan terhadap orang yang pernah membuat sejarah atau yang memiliki karya, karena tujuan dari wawancara ini adalah untuk mengetahui riwayat hidup, pekerjaan, pergaulan dan sebagainya.
Teknik dari wawancara ini ialah :
- Membuat pertanyaan terbuka.
- Pewawancara sebaiknya tidak menginterupsi karena tujuannya adalah untuk mengetahui peristiwa masa lalu dari narasumber.
- Memberikan kesempatan kepada narasumber untuk mengingat masa lalu.
- Gunakan referensi yang berkaitan dengan peristiwa besar sehingga narasumber / subjek dapat bercerita.
- Wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
Wawancara jenis ini dilakukan sebagai teknik pengumpulan data dimana peneliti telah mengetahui dengan pasti informasi yang ingin diperoleh dari narasumber sehingga pertanyaan yang hendak diajukan telah dibuat secara sistematis.
Dalam literatur jurnalistik dikenal banyak jenis wawancara, antara lain :
- Wawancara berita (news peg interview), yaitu wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi, atau pandangan interviewer tentang suatu masalah atau peristiwa.
- Wawancara pribadi (personal interview), yaitu wawancara untuk memperoleh data tentang diri pribadi dan pemikiran narasumber disebut juga wawancara biografi.
- Wawancara eksklusif (exclusive interview), yaitu wawancara yang dilakukan secara khusus, tidak bersama wartawan dari media lain.
- Wawancara sambil lalu (casual interview), yaitu wawancara secara kebetulan, tidak ada perjanjian dulu dengan narasumbel, misalnya mewawancarai seorang pejabat sebelum, setelah atau ditengah berlangsungnya sebuah acara.
- Wawancara jalanan (man in the street interview) atau wawancara on the spot, yaitu wawancara ditempat kejadian dengan berbagai narasumber, misalnya dilokasi kebakaran.
- Wawancara tertulis, yaitu wawancara yang dilakukan via email atau bentuk komunikasi tertulis lainnya.
- Wawancara cegat pintu (door stop interview), yaitu wawancara dengan cara "mencegat" narasumber disebuah tempat, misalnya tersangka korupsi yang baru keluar dari ruang introgasi KPK.
Ditinjau dari segi pelaksanaannya, wawancara dibagi menjadi beberapa jenis yaitu :
- Wawancara bebas : pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden, namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan itu berhubungan dengan data - data yang diinginkan. jika tidak hati - hati, terkadang arah pertanyaan tidak terkendali.
- Wawancara terpimpin : pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang lengkap dan terinci.
- Wawancara bebas terpimpin : pewawancara mengkombinasikan wawancara bebas dengan wawancara terpimpin yang dalam pelaksanaannya pewawancara sudah membawa pedoman tentang apa yang akan ditanyakan secara garis besar,
Perbedaan antara wawancara biasa dan wawancara jurnalistik
- Wawancara biasa
Merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi dimana sang pewawancara melontarkan pertanyaan - pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.
- Wawancara jurnalistik
Dalam pengertian jurnalistik, wawancara adalah suatu percakapan terpimpin dan tercatat atau suatu percakapan secara tatap muka dimana seorang mendapat informasi dari orang lain. Pengertian lain dari wawancara adalah merupakan suatu hubungan antar manusia dimana kedua pihak bersikap sama derajat selama pertemuan - pertemuan berlangsung. dalam bidang jurnalistik wawancara menjadi salah satu cara mendapatkan informasi bahan berita.
Perbedaan antara keduanya adalah, jika wawancara biasa tidak mengandung unsur berita seperti wawancara jurnalistik. Wawancara biasa lebih mengedepankan aspek kehidupan pada seorang narasumber, sementara itu wawancara jurnalistik sangat bergantung pada narasumber yang mempunyai informasi penting untuk segera diberitakan atau diterbikan. Wawancara biasa tidak mengejar waktu tetapi lebih mencari informasi kepada suatu narasumber. Wawancara jurnalistik pun berbanding terbalik dengan wawancara biasa, wawancara jurnalistik sangat membutuhkan waktu yang cepat dan singkat dalam mencari serta menerbitkan berita yang sesuai kebutuhan masyarakat.
Persiapan dalam melakukan wawancara
Beberapa persiapan yang dilakukan sebelum wawancara, yaitu :
- Menentukan tema.
- Menentukan angle.
- Susun outline, outline berisi dari :
- Tema berita,
- Angle,
- Latar belakang masalah,
- Narasumber,
- Daftar pertanyaan.
- Mengumpulkan informasi dengan tepat.
Menyusun daftar pertanyaan merupakan kunci keberhasilan suatu wawancara, ada beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman dalam menyusun pertanyaan, yaitu :
- Pertanyaan sebaiknya menggunakan kalimat yang efektif, singkat, padat, dan jelas.
- Pertanyaan tidak bertele - tele dan tidak jelas.
- Susun kalimat pertanyaan yang mewakili keingin tahuan konsumen media anda (pembaca, pendengar, penonton).
- Menggunakan pertanyaan terbuka.
- Susun pertanyaan dengan susunan yang logis.
- Jika wawancara menyangkut topik yang sedang hot, aktual dan banyak ditunggu orang perkembangannya, maka pertanyaan pertama bisa dimulai dengan pertanyaan yang paling penting terlebih dahulu (struktur piramida terbalik).
- Jika topik wawancara adalah masalah ringan dan bernuasa human interest, maka pertanyaan bisa dimulai dari yang ringan, mudah, dan tidak memaksa narasumber untuk berpikir terlalu dalam.
- Buat pertanyaan yang tidak menimbulkan salah interpretasi dan bermakna ganda.
- Buat pertanyaan yang tidak mudah diprediksi oleh narasumber.
- Jika dalam pertanyaan memerlukan disampaikannya data - data yang detail (angka, dan data statistik), maka buatlah seringkas mungkin dan dapat dipahami oleh narasumber maupun audiens.
- Hindari penggunaan istilah atau bahasa yang sulit dimengerti oleh narasumber dan audiens. gunakan istilah atau bahasa yang lazim dan sudah diketahui maknanya secara umum.
- Buat pertanyaan yang relevan kepada narasumber sesuai dengan keahliannya atau kompetensinya.
- Hindari pertanyaan yang keluar dari fokus masalah yang akan digali.
- Ajukan pertanyaan satu persatu, jangan sekaligus beberapa pertanyaan.
- Sebaiknya tidak mengawali pertanyaan dengan kata apakah, karena akan cenderung menggiring narasumber menjawab singkat dan tertutup.
- Harus mengerti maksud dari awal kalimat pertanyaan yang digunakan.
- Siapa : digunakan biasanya untuk menanyakan sebuah nama.
- Apa : untuk memancing narasumber menyampaikan sebuah deskripsi.
- Kapan : untuk menanyakan waktu dari peristiwa.
- Dimana : untuk menanyakan tempat kejadian peristiwa.
- Mengapa : meminta penjelasan lebih lanjut.
- Bagaimana : untuk menanyakan pendapat narasumber terhadap suatu masalah.
- Bertuturlah dan jangan membaca ketika menyampaikan kalimat pertanyaan.
Teknik wawancara
Adapun teknik wawancara dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
- Teknik verbal, yaitu teknik wawancara yang betul - betul memerlukan alat bantu hard ware, seperti catatan dan alat tulis, tape recorder, handycam, microfon.
- Teknik substansial, adalah teknik yang terkait dengan kemampuan jurnalis dari segi ketajaman nuraninya dalam menentukan pilihan tema, tempat dan saat yang tepat bagi berlangsungnya sebuah wawancara.
Komentar
Posting Komentar